Ternyata Berpesta adalah Sunnah Nabi, Yuk Berpesta !

Kalimat berpesta terkadang banyak orang beranggapan jauh dari ajaran Islam, seolah berpesta selalu mendekati dengan perilaku boros, hal-hal yang tidak baik, serta akan menimbulkan sifat menyombongkan diri, dan lain sebagainya. padahal berpesta adalah hal yang sangat digemari oleh Nabi Muhammad sebagai sosok teladan ummat Muslim.

Jadi jika ada orang yang bilang berpesta adalah haram karena tidak diajarkan oleh Nabi, dengan alasan karena Nabi hidup sederhana tidak mengajarkan hidup ber foya-foya, maka dia sebenarnya orang yang anti terhadap Nabi, seperti orang Indonesia anti terhadap PKI, atau bisa kita bilang kurang mendalami ajaran Baginda besar Muhammad.

Tau ngak sie ? yang paling  Nabi tidak suka sebenarnya pada orang-orang pelit, atau suka menumpuk harta kemudian tidak mau berbagi. Itu baru ajaran menyimpang. Sebab prinsip ajaran Nabi yaitu Islam adalah menjaga kerukunan dan saling berbagi antara sesama. Dalam hal ini bisa berupah pesta.

Berpesta tidak hanya menjadi gaya hidup orang barat yang merasa paling modern, dan loyal secara sosial. Islam juga mengajarkan hal yang sama, Cuma prinsipnya dan tujuannya yang berbeda. Tidak memandang status sosial dan menjaga persaudaraan. Oleh sebab itu dianjurkan oleh nabi dengan sering-sering berpesta supaya saling berbagi dan mengurangi angka kelaparan.

Ini riwayat Anas bin Malik, bahwa Nabi pernah berkata kepada Abdurrahman bin Auf : “ Adakan walimah, meski hanya dengan kambing.” (Muttafaqun Alaih).

Bayangkan satu kambing dalam ukuran orang Indonesia untuk berpesta sangatlah mewah, jangkan kambing tahlilan atau sholawatan mengundang 10 orang dengan lauk ayam sudah alhamdulillah. Karena di Indonesia harga kambing sangatlah mahal baru lahir saja bisa sampai 1 juta. sedangkan Nabi bilang “ Meski Hanya dengan Kambing.”

Artinya orang yang mampu, mulai dari menegah kebawah dan menjulang keatas sangat di anjurkan melakukan pesta atau Nabi menyebutnya walimah. Tujuanya supaya bisa saling berbagi rezeki yang tuhan berikan, dan menjalin hubungan teman, kerabat dan tetangga, baik seiman maupun tidak.

Apa itu walimah menurut Nabi ? walimah berarti penyajian makanan untuk acara pesta. Ada yang bilang juga, walimah berarti segala macam makanan yang dihidangkan untuk acara pesta atau lainya. jadi pesta dan makanan adalah kakak ade yang tidak boleh dipisahkan.

Apalah arti sebuah pesta jika Cuma isinya hanya ceramah, dan musik tanpa makanan ? pelit. Nabi sendiri yang bilang, “Meski hanya dengan kambing” sebagaimana waktu dia habis menikahi seorang wanita dengan mas kawin emas.

Pernyataan nabi diatas menurut Imam At-Tirmidzi mengatakan, “ ini merupakan hadits hasan shahih.” Adapun jumhur ulama berpendapat, bahwa walimah merupakan suatu hal yang sunnah dan bukan wajib.

Sampai disini paham ? jadi tidak ada larangan bagi ummat Muhammad untuk melakukan pesta, supaya bisa saling memberikan makan pada mereka yang kurang mampu terutama.

Terus bagaimana hukumnya untuk menghadiri undangan? Menurut banyak pendapat hal ini sangat di perintahkan oleh nabi. Kan kasian sudah siap-siap masak nasi, lauk daging dan minuman susu dan madu, tiba-tiba tidak ada yang datang.

Berikut tiga alasan yang tidak bisa dibantah untuk tidak mendatangi undangan sebagaimana hadits Nabi :

Pertama, dari Ibnu Umar, dia menceritakan, rasulullah bersabda: “ Hadirilah undangan  jika kalian diundang,” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi). Adapun hadits ini hasan shahih.

Kedua, “Bebaskan orang yang dalam kesulitan, datangilah orang-orang yang mengundang (dalam walimah), dan jenguklah orang yang sedang sakit.”(HR.Al-Bukhari)

Ketiga, dari Al-barra’ bin Azib, dia menceritakan : “Rasulullah telah memerintahkan kami dengan tuju hal. Yaitu, menjenguk orang sakit, menghantarkan jenazah, mendoakan orang yang bersin, dizhalimi, membebaskan sumpah, menolong orang yang dizhalimi, menyebarkan salam, dan mengahadiri undangan……”

Apa yang dilarang nabi dalam berpesta yang membedakan dengan orang-orang barat kemudian, menurut dari terusan hadits diatas bahwasanya “…..Beliau juga melarang kami mengenakan cincin emas, bejana perak, uang palsu, sutra, sutra halus, dan sutra kasar.” (HR.Al-Bukhari)

Maksud hadits diatas adalah, berpesta hanya untuk kepentingan makan bersama, membangun kekeluargaan ntara sesama, tidak lebih dari itu. Bukan untuk saling pamer harta dan kekayaan yang dimilikinya. Jika tempat itu seperti itu sama halnya dengan datang pada tempat maksiat.

Dari Ali bin Abi Thalip, dia menceritakan : “ Aku pernah membuat makanan, lalu aku mengundang Rasulullah beliau datang dan melihat beberapa gambar di dalam rumah, maka beliau kembali pulang, “ (HR. Ibnu Majah).

Yuk berpesta saja, jangan yang lain, sebab yang lain berat kamu tidak akan kuat, karena neraka itu panas banget !!