Menikahlah Kalian Sebelum Kaya Karena Membujang Itu Makruh

menikah

Kita sekarang sudah masuk pada kehidupan sosial yang salah kaprah, mulai dari pemahaman fiksi, radikal, dan yang tidak kalah penting juga adalah menikah. Menikah di Indonesia selalu didahului dengan kalimat “kaya dulu baru menikah”. Tentu ini perbuatan yang salah kaprah.

Padahal ajaran agama dengan jelas mengatakan bahwa menikah dulu baru kaya. Kalimat ini yang kemudian menjadi refrensi manusia seperti kita Indonesia, yang ngakunya paham agama, tapi tidak ada nyali cepat nikah. Kesalahalnya sangat sederhana ia salah interpretasi pada hadis Nabi tentang perintah “menikahlah kamu jika mampu.”

Sehingga ada istilah kemudian lahir dari bibir seorang perempuan, “Ra Ninja ra cinta.” Artinya mampu  selalu diukur dari materi saja. padahal tujuan dari nikah sesuai dengan keyakinan dan keimanan saya adalah “Berhubungan badan.” Itu saja.

Jadi perintah nabi dengan tegas bukan mampu secara materi, melainkan mampuh begulat dengan tenaga diatas ranjang dan membelai sampai basah, kemudian mandi, dan nikmatnya luar biasa. Atau bahasa sederhananya “ laki tidak loe?” jika tidak rajin-rajinlah untuk sering berolahraga, minum jamu, dan datang ketukang pijet ceritakan dengan sejujurnya jika alat tempur kamu tidak kuat hidup untuk bertempur.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, Nabi pernah menceritakan disaat perjalanan, maka nabi bersabda : “ Wahai generasi muda, barangsiapa diantara kalian telah mampu serta berkeinginan untuk menikah, maka hendaklah menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan….” (HR.Al-Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi).

Kembali pada persoalan “mampu”, bahwa yang disebut mampu itu bukan materi yang berlipat ganda, yang kemudian bisa membeli apa saja  yang sesuai dengan diinginkan wanita. Pandangan itu salah, itu duniawi bukan kenikmatan maknawi.

Jika pemahaman itu terus berlanjut maka yang akan terjadi kemudian adalah “membujang.” Dengan dalil belum punyak kerjaan tetap, ada tapi gaji pas-pasan tidak cukup makan dengan pasangan, itupun malamnya menu andalan mie rebus tampa telur.

Padahal membujang hukumnya makruh yang hal itu bertetangga dekat dengan haram. Jika salah buka pintu kamu bisa menjadi haram. Keduanya tidak baik untuk kita masuki. Oleh sebab itu saya akan menjelaskan hukum membujang secara komplet, supaya tidak dibilang Fiktif.

Kata “Membujang” yang jika terjemah kedalam bahasa arab yang artinya adalah Tabattul, memutus diri untuk tidak menikah. Dalam kasus ini khusus Indonesia banyak orang membujang bukan karena alasan lemah sahwat, tapi karena harta. Jadi harta telah membuat seorang mengkebiri pernikahanya, dan itu dosa.

“ yuk menikah saja.”

Dari sa’ad bin abi waqash, ia berkata : Rasulullah pernah memperingatkan dengan tegas, Utsman bin Madzum, sebagai seorang yang berniat membujang. Seandainya beliau mengizinkan, nicaya kami telah berkebiri” (HR, Al Bukhari dan At-Tirmidzi) dan juga hadis dari Samurah, ia berkata “ Rasulullah SAW melarang tindakan membujang” (HR Anasa’i dan At-Tirmidzi).

Hadis terpercaya ini tentu tidak dapat respon dari berbagai kalangan, semua ulama’ sepakat jika membujang adalah dilarang, karena akan berpotensi untuk perusakan alat vital yang telah tuhan berikan sebagai bentuk kejantanan. Menurut Ibnu Hajar karena penciptaan alat kelamin pada seorang lelaki-laki merupakan nikmat yang paling besar.

Kenikmatan itu tidak boleh di diamkan, melainkan harus saling berbagi rasa pada yang lain dengan menikah. Karena sesama muslim memang sudah selayaknya berbagi kenikmatan. kurang lebih begitu dalilnya dan alasan kenapa kita harus menikah dan didalarang memujang.

Sebagai penutup dari tulisan ini saya akan menutup dengan dalil yang lebih kuat dan terpercaya dari HR, Ath-Thabrani dan Al-Hakim dengan sanad yang sahih tentunya, ia mengatakan bahwa menikah adalah penyempurna agama yang paling besar jika kita yakin sebagai mahluk beragama tidak ateis, serta tidak menyebut kitap suci dan hadis adalah fiksi.

“barang siapa yang diberikan oleh Allah istri yang shalihah, maka Dia telah membantunya untuk menyempurnakan setegah dari agamanya, untuk itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada setengah lainya.”

Cukup dulu ya, intinya jangan takut menikah, membujang itu tidak baik untuk syariat, Abang H.Roma Irama, bilang juga sama bujangan juga tidak enak, sendirian terus, kecuali kamu mau menjadi ateis.