Bolehkah Ummat Muslim Shalat Senja  karena Mengaguminya ?

shalat senja shalat senja

Bermula dari sebuah buku antologi cerpen “ Sepotong Senja untuk Pacarku” yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma telah mampu membuat anak muda atau publik banyak berburu senja di sore hari. entah apa alasanya, yang jelas gambaran dalam buku itu kemudian menjadi diskursus publik yang menarik, sampai pada prospektif fiqih.

Pertanyaan fiqih kemudian lahir dari seorang sahabat disaat saya sedang berburu senja pula di tepi pantai parangkritis Yogyakarta yang kebetulan bersama saya. Bolehkan kita shalat senja karena kita mengagumi atas kenikmatan tuhan?

Saya mencoba untuk menjawab seingat saya yang katanya berstatus sebagai santri dulunya. Untuk sementara waktu saya menyebutkan hukumnya tidak boleh, bahkan mendekati haram. Mungkin saja boleh kata saya melanjutkan penjelasan, jika seandainya Nabi Masih hidup sampai sekarang. Sayangnya nabi sudah meninggal.

Seandainya Nabi masih hidup alasanku sederhana kenapa sampai berani untuk menego Nabi Muhammad,  jika tidak dilakukan shalat senja, maka akan mendekati pada syirik. Tidak bisa dipungkiri meludaknya banyaknya orang yang berburu senja, baik untuk pacarnya maupun yang bermaksud menjadikan tuhan, dan serta buat julalan dijalanan merasa penting kemudian senja untuk dijadikan pembahasan.

Tapi saya menegaskan saya masih percaya pada apa yang di perintahkan tuhan bahwa shalat senja adalah “tidak boleh.” Dalilnya katanya guru waktu masih MTS, setingkat dengan SMP, waktu itu banyak setan katanya.

“Ada dalilnya?” ia kembali bertanya memancing jawaban yang lebih santri.

Aku mencobab dengan riwayat yang disampaikan oleh imam muslim: ada tiga waktu di mana Rasulullah SAW melarang kita shalat dan mengubur jenazah di dalamnya : ketika matahari terbit sampai meninggi, ketika unta berdiri di tengah hari yang sangat panas sekali (waktu tengah) sampai matahari condong, hingga terbenam.

Layaknya santri yang konservatif, saya tidak butuh banyak alasan yang jelas, saya cuma bisa menjalankan apa yang diperintahkan nabi, termasuk menyaksikan senja yang tidak terlalu berlebihan.

Sebenarnya saya juga bisa menjawab dengan memberikan logika sederhana akan maksud terjemah  dari hadis diatas. Dengan mengembalikan pada pasal hukum dasar. Lebih utama mana dilaksanakan yang wajib dan yang sunah ?

Adapun shalat senja hanya kegiatan sunnah yang tidak banyak akibatnya. Secara sosial seandainya nabi memerintahkan shalat senja maka dia akan lalai karena orang lagi sedang menikmati sore dengan kopi menghapus rasa lelah dan capek habis kerja untuk istri.

Atau dalam istilah madzhab Hanafi makruh tahrim bukan waktu yang paling tepat untuk melakukan shalat sunah dan wajib sekalipun. Terutama saat terbit matahari dan saat terbenamnya. Inilah pendapat yang dipegang Umar bin Khaththan, Ummul Mukminin Aisyah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Ibnu Sirin, dan Ibnu Jarir ath-Thabari.

Mungkin juga dulu senja tak seinda rembulan dan gerhana, sehingga diperbolehkan untuk shalat gerhana. Gerhana mungkin lebih menarik karena keberadaanya langkah, dan memperlihatkan kekuasaan tuhan yang luar biasa. Adapun senja hanya tentang rutinitas yang seringkali di ulang setiap harinya.

“Adapun menurut para ulama madzhab Hambali dan Hanafi, penulis Al-Mughni mengatakan, “Mengqadha’ shalat sunnah dan mengerjakan shalat sunnah yang memiliki sebab seperti shalat Tahiyatul masjid, shalat Gerhana, dan sujud Tilawah pada waktu-waktu terlarang adalah tidak boleh menurut madzhab (Hambali).” Kemudian beliau menyatakan bahwa ini juga pendapat Ashhabur Ra’yi (madzhab Hanafi).

Terus jika beliau yang mengatakan dan menyampaikan apa daya saya kemudian, sebagai santri yang baik dan tunduk pada aturan hanya mengatakan jika senja memang indah dan menggoda, tapi keindahan tidak selalu disertai dengan sholat. Senja hanya diperuntuhkan pada orang-orang untuk rehat persiapan untuk shalat.

Ibnu Sirin telah menyusun ungkapan yang bagus dan ringkas. Dia berkata, “Apabila matahari muncul, tundalah shalat sampai ia benar-benar tampak. Apabila matahari mulai menghilang, tundalah shalat sampai ia benar-benar terbenam.”